Membaca Makna Kesepian dalam Drama “When the Weather Is Fine”

Dea Elsaid

Martin Heidegger pernah menyinggung bahwa manusia sering kehilangan dirinya karena tenggelam dalam keramaian dunia (das Man). Kenyataannya dalam momen-momen sunyi, manusia memiliki kesempatan untuk kembali mendengar suaranya sendiri. Melihat sisi yang rabun di tengah keramian, atau melihat titik hitam di tengah ragam warna.

John Cacioppo melalui penelitiannya mengenai kesepian menjelaskan bahwa loneliness bukan sekadar kondisi fisik ketika seseorang sendirian, tetapi persepsi bahwa hubungan sosial yang dimiliki tidak mampu memenuhi kebutuhan emosionalnya. Mungkin kita pernah mendengar kalimat “Di tengah keramian, aku merasa sepi.” Kondisi tersebutlah yang dimaksudkan.

Dalam Drama “When the Weather Is Fine” kesepian yang dialami oleh Hae Won, bukan muncul karena ia hidup sendiri, melainkan karena pengalaman traumatis membuatnya sulit membangun rasa percaya terhadap orang lain. Sehingga yang saya saksikan bahwa kesepiannya bersifat psikologis, bukan sekadar sosial. 

Kesepian yang dialaminya adalah warisan dari tragedi yang terjadi di keluarganya. Kematian ayahnya, tindakan ibunya yang harus menjalani hukuman selama tujuh tahun masa tahanan setelah mengaku menjadi pelaku penabrakan ayahnya, serta rahasia yang selama bertahun-tahun dipikul oleh bibinya membentuk dunianya penuh luka. Terlebih ketika mengalami perundungan di sekolah.

 Trauma membuat Hae Won tidak hanya menjaga jarak dari orang lain, tetapi juga dari dirinya sendiri. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, berhati-hati, dan enggan mempercayai bahwa kehidupan dapat menghadirkan kehangatan. Hal ini berkaitan dengan yang dikatakan oleh Judith Herman, bahwa individu yang mengalami trauma berkepanjangan sering kehilangan rasa aman (loss of safety), sulit mempercayai orang lain, dan cenderung menarik diri dari hubungan sosial.

Kepulangan Hae Won dari Seoul menuju Desa Bookhyun bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan eksistensial untuk menghadapi masa lalu yang selama ini ia hindari. Desa yang tenang, musim dingin yang panjang, rumah kacang kenari, toko buku “Good Night” dan ritme kehidupan yang lambat memaksanya berjumpa kembali dengan ingatan, rasa kehilangan, serta pertanyaan tentang siapa dirinya setelah semua tragedi itu terjadi.

Pemikiran Martin Heidegger membantu membaca perjalanan Hae Won dari sudut yang lebih filosofis. Heidegger menjelaskan bahwa manusia kerap terjebak dalam kehidupan sehari-hari yang dikuasai oleh das Man. Kehidupan yang harus berjalan sesuai dengan ekspektasi dan standar kehidupan orang lain hingga menjadi sebab hilangnya hubungan yang autentik dengan diri sendiri. 

Saya teringat sebuah status Facebook yang saya tulis sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu, saya bertemu dengan seorang kakek yang hidup sebatang kara. Meski menjalani hidup dalam kesendirian, lisannya dipenuhi nasihat dan kebijaksanaan. Tidak sekali pun saya mendengarnya membicarakan orang lain dengan nada negatif. Pengalaman itu mengingatkan saya pada ucapan Mok Hae Won dalam drama ini: 

"Hidupku cukup sulit. Jadi aku tak punya energi untuk peduli dengan masalah orang lain."

Kalimat Hae Won tidak lahir dari sikap acuh tak acuh, melainkan dari seseorang yang telah begitu akrab dengan luka dan perjuangannya sendiri. Pengalaman serupa saya temukan pada sosok kakek itu. Kesendirian yang dijalaninya tidak menjadikannya pahit, tetapi justru melahirkan kebijaksanaan dan penerimaan terhadap hidup. 

Saat itu, saya menuliskan sebuah kalimat di dinding Facebook saya, "Rupanya kesendirian membuatnya semakin mengenal dirinya, semakin mengenal Penciptanya." Bertahun-tahun kemudian, setelah menyaksikan perjalanan Hae Won, saya merasa kalimat itu masih menyimpan makna yang sama. Barangkali tidak semua kesendirian berakhir dengan kehampaan. Ada kesendirian yang justru menjadi ruang untuk mengenali diri, menerima luka, dan menemukan kembali hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan.

Toko Buku “Good Night”

Hal yang paling saya sukai dari When the Weather Is Fine adalah kehadiran Toko Buku Good Night. Toko buku kecil itu didirikan oleh Im Eun-seob di atas sebidang tanah milik seorang kakek yang dengan tulus meminjamkannya tanpa meminta bayaran. Detail kecil ini terasa begitu menyentuh. Saya menerjemahkan kejadian ini dengan melihat perspektif bahwa di tengah dunia yang semakin menghitung persoalan untung dan rugi, drama ini justru memperlihatkan bahwa sebuah ruang literasi dapat lahir dari kemurahan hati dan kepercayaan antarmanusia.

Good Night bukan sekadar toko buku yang bertahan di sebuah desa terpencil. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi orang-orang dari berbagai generasi. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia berkumpul bukan untuk berdebat atau mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk membaca, mendengarkan, dan berbagi cerita. 

Dalam setiap pertemuan klub buku, salah seorang anggota bergiliran membacakan kutipan dari buku pilihannya. Anggota termuda, Jung Seung-ho, memilih Owl at Home karya Arnold Lobel. Ia membacakan kisah tentang Burung Hantu yang sedang menikmati kehangatan perapian ketika musim dingin mengetuk pintunya. Alih-alih menutup pintu, Burung Hantu justru berkata, "Winter, come on in! Come inside and warm yourself for a while... Winter, you're my guest. Behave yourself."

Saya melihat bahwa kisah sederhana itu rasanya seperti metafora bagi perjalanan para tokoh dalam drama ini. Musim dingin tidak lagi dipandang sebagai sesuatu hal yang harus dilawan, melainkan diterima sebagai tamu. Barangkali demikian pula dengan kesedihan, kehilangan, dan kesepian. Semakin keras manusia berusaha mengusirnya, semakin lama ia bertahan. Namun ketika diterima sebagai bagian dari kehidupan, perlahan luka itu kehilangan kuasanya.

Pada pertemuan klub buku di episode ketiga, nuansa reflektif itu kembali hadir ketika Bae Geun-sang memperkenalkan cerita rakyat klasik Korea berjudul Yeon and Young Master Willow. Pilihan bacaan yang beragam menunjukkan bahwa buku-buku di Good Night bukan sekadar menjadi bahan diskusi, melainkan medium untuk memahami kehidupan. Setiap cerita menjadi cermin yang memantulkan pengalaman para tokohnya sendiri, sehingga membaca bukan lagi aktivitas intelektual semata, melainkan proses mengenali diri dan memaknai kehidupan.

Melalui When the Weather Is Fine, saya melihat pengalaman berharga bahwa di tengah kesepian, buku menjadi teman yang tidak memaksa kita berbicara, tetapi selalu bersedia mendengarkan. Mungkin karena itulah sastra mampu menghadirkan kehangatan, bahkan ketika hidup sedang berada di musim dingin.

 

Komentar

Postingan Populer